Thursday, November 29, 2018

Andaikan Hidup Semudah Bermain The Sims

"Yak, mumpung sekarang sudah selesai UAS, Ibu akan memberikan kalian PR membuat mindmap Genre of the Text sama buat teks laporan minimal 200 kata. Dikumpulkan besok pagi sebelum bel jam pertama. Bagi yang tidak bisa datang pagi silakan dikondisikan, kalian sudah SMA." "Karena waktu kita tinggal sedikit dan materi 1 semester ini harus selesai, minggu depan semua PPT PKn dan soal beserta jawabannya sudah harus selesai." "Kerjakan halaman 48, 51, 53, 55. Besok yang belum kerja nyanyi 2 lagu mandarin!"

Kata demi kata yang diucapkan guru menerpa kami layaknya angin malam berhembus mencekam tulang dan raga. Tas sehari-hari yang kami pikul serasa semakin berat hari demi hari. Beberapa tidak lagi memasukkan bukunya ke dalam tas, melainkan dibawa di tangan layaknya kutu buku. Suasana UAS yang seharusnya melegakan tidak terlalu terasa kali ini. Sekolah telah memajukan jadwal dengan tujuan setelah UAS kita melanjutkan pembelajaran untuk menyicil materi semester 6 yang mengantre. Setidaknya, hal ini hanya bertahan selama dua minggu.

Jam 10, waktunya siswa pulang. Dengan tas yang berat aku berjalan menuju parkiran motor, sesegera mungkin memanasi moge kesayangan dan lari dari sekolah ini. Rasanya sudah cukup sekian dulu aku berada di sekolah kesayanganku. Kini biarkan aku beristirahat di istana kecil nan nyaman. Aku keluarkan laptop kemudian tanpa berlama-lama aku membuka 'The Sims 4'. Sebuah permainan kehidupan manusia virtual yang dikendalikan manusia asli.

Sebagai seorang gamer, makhlum saja bila aku mampu menghabiskan waktu hanya pada setumpuk program yang terintegrasi ini. Namun, dimana ada suka disitu ada saja yang tak suka. Begitulah orang tua yang mengetahui anak kesayangannya bermain game. Teguran demi teguran pun melayang. Entah sempat atau tidak teguran itu tersimpan dalam memori karena pikiran langsung dipenuhi dengan rasa sumpek yang tak terbendung. Sambil bersungut-sungut aku mematikan laptop dan langusng berbaring di kasur. Aku hanya ingat perintah terakhir dari orang tua adala belajar, belajar, dan belajar.

Aku tidak paham apa yang mereka pikirkan. Mereka akui nilaiku cukup bagus, namun aku merasa mereka masih merasa kurang. Ingin ku meledak dan membakar semua yang menghambatku untuk menjadi bahagia. Hanya saja, yang kutahu adalah mereka hanya ingin yang terbaik untukku. Lagipula, secara fisik aku tidak mampu meledak. Amarah itu kini terpendam dalam tidur yang amat pulas.

Di dalam tidur, kuingat mimpi aku bermain game itu, 'The Sims 4'. Dan aku berpikir bagaimana rasanya bila hidup kita bisa diatur semudah di game tersebut. Semua bisa diwujudkan hanya dengan serangkaian ketikan mouse. Ingin bekerja, cari dan anda langsung diterima. Naik pangkat? Kerja aja yang bener niscaya 3-4 hari pangkatmu naik. Mendapat jodoh pun serasa menyelesaikan rumus trigonometri sederhana, tidak sesulit dan serumit aslinya. Kurang uang? Cheat aja. Mati? Exit terus load game, respawn seketika. 

Sayangnya, kesempurnaan hidup tersebut sirna tepat ketika aku terbangun. Mimpi tersebut menjadi obsesi sesaat ketika ku terjaga kemudian. Aku ingin hidupku sempurna, mudah, dan tak ada beban seperti 'The Sims 4'. Dan aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi selain diriku menjadi bahagia?
Sejenak aku termenung memikirkan hal sepele itu.

"Apakah jika hidup seperti itu manusia tidak merasa bosan?" Hal seperti itu bahkan lebih monoton daripada kegiatanku selama ini. Tapi sisi positif nya adalah kita bisa mengendalikan nasib kita sendiri. Menjadi siapapun yang kita mau apapun kondisinya. Tidak ada jalan berliku untuk menuju kebahagiaan. Tapi coba pikir, bisakah kita lakukan di dunia nyata ini?

Kenyataanya nasib kita ditentukan oleh Tuhan dan hanya Ia yang tahu apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya. Selain itu, kebahagiaan juga diperoleh melalui perjuangan panjang yang membutuhkan pengorbanan. Namun, kita bisa menjadi siapa yang kita mau selama syarat-syaratnya bisa terpenuhi. Nyatanya, tanpa itu semua kita tidak akan bahagia. Coba semua orang kaya, apakah mereka akan bahagia atas kekayaan mereka? Tidak kan?

Karena hal itulah, kita harus bersyukur pada Tuhan pencipta kita. Karena berkatnya kita masih bernafas sampai kini. Karenanya kita dapat merasa bahagia seperti sekarang. Oleh karena itu, hadapilah hidup yang penuh tantangan dan rintangan ini. Bekerja keraslah dan raihlah hasil semaksimal mungkin. Jangan lupa bersyukur selalu kepada Tuhan atas apa yang telah diperoleh.
Tetap bersemangat!

No comments:

Post a Comment