Kalau aku jadi orang tua dan tahu anakku akan mewakili sekolah untuk lomba, aku pasti senang banget. Ada rasa-rasa berhasil menjadi orang tua gitu, bisa membesarkan anak sehingga sudah bisa dipercaya mengemban beban pada usia muda. Tapi sepertinya tidak semua orang tua senang kalau anaknya ikut lomba. Memangnya, orang tua mana yang gak suka anaknya ikut lomba? Ada kok, kebetulan dia orang tua teman aku sendiri.
Pengenalan sedikit nih, aku dan dia sudah sering ikut lomba. Aku sama dia selalu satu tim, aku pegang materi fisika, dia biologinya. Kalau ada lomba kedokteran dan materinya campur, aku sama dia pasti satu tim. Udah sejak kelas 10 kita lomba bareng, tapi saat kelas 11 kita mulai jarang lomba bareng nggak tau kenapa. Terus kita sekarang kelas 12, saat-saat 'mborong' piala gitu. Pengalaman sudah ada, ilmu sudah penuh, eh dianya nggak mau ikut. Kalau kalian ada di posisiku, kira-kira kecewa gak? Aku sih yes.
Aku yang bersemangat saat itu nggak terima kalau dia nggak ikut lomba, apalagi yang akan kita ikuti adalah lomba kedokteran yang istilahnya paling 'prestigious' di Jawa Timur. Lagipula, si dia itu cantik banget, kan lumayan ada bahan biar bisa dempet-dempet sama cewek bening wkwkwkw. Kemudian keluarlah insting kepo untuk menyelidiki asal muasal mengapa dia yang kompetitif banget bisa menolak lomba itu. Awalnya sih, aku kira dia udah risih sama aku gara-gara ada gosip aku suka sama dia. Untung dugaanku salah, karena dia masih betah ngomong lama berdua sama aku sampai sekarang. Aku interogasi dia terus dan akhirnya dia beritahu alasannya. Alasannya benar-benar mengejutkan buat aku. NGGAK DIBOLEHIN SAMA ORANG TUA GAESS!!
![]() |
| Gaboleh ikut anjayy!! |
Sekilas emang nggak masuk akal kalau orang tua tidak mengijinkan anaknya untuk ikut lomba. Kan sayang banget, sudah punya modal penuh tinggal gas pol tapi nggak dibolehin. Tapi ternyata emang itu masalah dia, kata orang tuanya percuma ikut lomba tapi nggak pernah menang. Iya sih kita belum pernah menang, tapi kan emang kita belum punya cukup pengalaman sama ilmu waktu itu. Kadang kita lolos sampai semifinal, kadang juga kita bahkan nggak lolos penyisihan. Tapi semua kan normal karena sejatinya kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Jadi, aku bujuk dia biar mau ikut.
Si dia yang 'ngebet' pingin ikut lomba berusaha membujuk orang tuanya. Tapi hasilnya nihil, adanya dianya yang dimarahin, katanya. Yaudah, giliran kita yang bujuk orang tuanya. Waktu itu, temankulah yang berusaha melunakkan hati orang tuannya. Bermodal niat baik, uang 2000 gua dan wartel sekolah, teman gua menelepon mamanya sambil kita bantu menjawab. Sebut saja teman gua yang telepon itu Ari (Nama Sesungguhnya). Pertama, Ari menjelaskan kenapa kita pingin ngajak si dia buat lomba. Terus, gantian mamanya yang ngomong.
"Emangnya kamu bisa njamin kalau kamu bisa menang?"
"Nggak menjamin sih ai, tapi kita akan coba", 'Ai' itu istilah mandarin buat tante. Bacanya a-i.
"Kamu ranking paralel berapa?", Mamanya tanya.
"Ranking 33 ai", jawab Ari dengan jujur.
"Kamu ranking 33 mau ngajak anak saya ranking 1 paralel, yakin kamu?"
![]() |
| WTF mom? |
Si Ari langsung diam nggak tahu mau ngomong apa. Yang bisa dia lakukan setelah itu cuma dengering ceramah mamah si dia. Abis telepon, si Ari keluar dan mengerutu sambil cerita apa yang mama si dia katakan. Tapi emang aku sam Ari setuju kalau pertanyaan itu bener-bener menyakiti perasaan kita. Tapi yaudah kita terima aja, kalau sudah orang tua yang bilang begitu kita gak bisa berbuat apa-apa lagi kan?
Yang bikin aku heran itu waktu Ari cerita tentang ceramah mamanya si dia, mamanya bilang gini, "Anak saya loh, untuk mengejar paralel 1 waktu 24 jam itu nggak cukup, butuh 28 jam dia", dari sini, kita sadar kalau mamanya cuma ingin anaknya tidak menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tidak terjamin. Namanya juga orang tua, orang tua baik mana yang tidak menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya. Apalagi, si dia itu cewek tunggal. Kebayang kan gimana perasaan orang tuanya kalau anaknya gagal?
⁂------⁂
Guys, dari ceritaku tentang temenku ini. Gua berpesan kepada kalian, jangan sampai kalian durhaka sama orang tua kalian sendiri. Si dia itu anaknya benar-benar patuh sama orang tuanya. Remaja umumnya bakalan memaksa untuk ikut lomba tersebut, sebaliknya si dia tetap mendengar nasihat orang tuanya. Dia lakukan itu karena ia tahu bahwa orang tuanya hanya ingin anaknya tidak gagal kelak. Mereka ingin yang terbaik untuk si dia, makanya mamanya tidak mengijinkan biar si dia bisa fokus mengejar paralel sekolah. Lumayan loh menjadi orang nomor satu dari 541 siswa lain se-angkatan MIPA. Jadi, hormatilah orang tuamu, aku yakin kalian tidak akan menyesal kalau melakukan hal tersebut. Aku rasa itu aja pesan dari aku kali ini. Goodbye!
⁂------⁂
Btw gaes, dalam lomba itu, aku sama si Ari lolos sampai semifinal. Sementara teman-temanku di tim satunya bisa sampai di final! Kita bangga banget karena kita tahu gaada satupun dari kita yang belajar buat lomba. Soalnya, waktunya berbenturan sama UAS sekolah, jadi kita fokus rapor dulu baru lomba. Plop twist, kita pingin banget kirim sertifikat kita ke mama dia dan bilang "Makan nih, coba anakmu ikut pasti menang!". True story, tapi kalau kayak gitu gua pasti udah jadi batu sekarang. Udahlah, nantikan cerita selanjutnya. Cya!
![]() |
| Yang ganteng sebelah kanan itu aku. Coba tebak Ari yang mana? Sama lomba apa? |



No comments:
Post a Comment