![]() |
| Timnas oh timnas |
Padahal kalau dilihat di atas kertas, peluang timnas untuk lolos besar banget. Lihat aja deh skuad yang diusung coach Bima Sakti, semuanya pemain terbaik di negeri kita. Ada Lilipaly, Andik, Evan Dimas, Hansamu, dan 19 pemain pilihan lainnya. Tapi entah mengapa kesempatan timnas untuk lolos lenyap begitu saja. Apalagi ketika kita kalah lawan Singapura yang kalian tahu sendiri jumlah penduduknya gak banding sama kita.
Tanggapan dari netizen juga macam-macam. Yang sekarang lagi ngetrend banget itu adalah hashtag #MenangKalahGarudaDiDadaku. Menurutku sih ini adalah bentuk respect rakyat Indonesia atas kerja keras dan perjuangan timnas walaupun singkat. Sekaligus menunjukkan kalau mereka cinta negara ini. Itung itung lumayan lah walaupun timnas kalah tapi rasa nasionalisme rakyat setidaknya meningkat.
![]() |
| #MenangKalahGarudaDiDadaku |
Kemudian belakangan ini muncul juga hashtag #EdyOut . Kalau kalian nonton timnas vs Filipina, kalian pasti sempat dengar chant "Edy Out". Dilansir dari berbagai media, chant ini berasal dari tribun selatan GBK yang ditempati sama supporter Indonesia bernama 'Ultras Garuda'. Selain itu, mereka juga menggemakan chant "Wartawan harus baik", sebagai sindiran kepada Edy Rahmayadi setelah berkomentar pada press conference. Menurutku ini merupakan bentuk protes dan kekecewaan supporter dengan PSSI selaku badan yang mengurusi timnas.
![]() |
| Netizen kejem juga ya |
1. Timnas Kurang Persiapan
Kurangnya persiapan ini sebenarnya merupakan hasil bentrok jadwal antara jadwal AFF Cup dan Liga 1. Para pemain tidak dapat fokus pada timnas sebab mereka juga harus membela klub di liga. Oleh sebab itu, kondisi fisik dan mental terpecah. Lagipula, menurutku PSSI terkesan 'tidak mengurusi' kondisi ini. Akibatnya adalah waktu persiapan dan latihan menjadi sempit.
2. Penggantian Pelatih Secara Mendadak
Coach itu ibarat guru dan pemain adalah muridnya. Bayangkan ketika kalian mengikuti sebuah lomba penting dan tiba - tiba guru kamu diganti sama orang lain. Sebagus apapun gurunya, murid perlu waktu adaptasi dengan sang guru. Sama seperti timnas, pergantian pelatih dari yang sebelumnya dilatih Luis Milla kemudian mejadi Bima Sakti terjadi mendadak. Walaupun Bima Sakti sudah menjadi assistennya cukup lama, tetap saja persiapan timnas menjadi lebih susah.
3. Korban 'Salah Asuh' PSSI
Menurutku inilah yang menjadi penyebab utama daftar panjang kegagalan timnas di berbagai ajang dunia. Sebagai komite yang mengurusi sepak bola Indonesia, seharusnya mereka lebih serius dalam menangani timnas, termasuk mengatur jadwal liga dan persiapan. Pendapatku sih, di dalam PSSI pasti ada masalah internal yang mengganggu mereka. Termasuk kualitas manajemen yang menurutku bernilai 3/10. Masa dari 250 juta penduduk dengan segudang bakat kalah sama ladyboy (No offense ya bercanda doang wkwkwkwk). Yang bener aja lu! Ditambah lagi target PSSI adalah juara, tapi tanpa usaha serius. Ngibul gak?
Terlepas dari faktor tersebut, masih ada banyak faktor kecil lain yang juga memengaruhi performa timnas selama AFF Cup. Menurut kalian, apa yang menjadi faktor utama kegagalan Timnas Garuda di AFF Cup 2018? Coba kalian tulis komentar kalian di kolom komentar tentang timnas. Jangan lupa doakan juga semoga kedepannya timnas menjadi lebih baik.



No comments:
Post a Comment